Ayahku yang aku rindukan, rasanya rindu ini semakin membuncah ketika tidak ada lagi yang bisa saya ajak bicara. Ingin sekali rasanya Ayah disampingku lalu aku menangis diddalam pelukan hangatmu, dan Engkau mengelus kepalaku sambil berkata "sudah Nak sini cerita sama Ayah", kemudian mengusap air mataku. Bayangan seperti itu sangat sering muncul dipikiranku.
Begitu sayangnya Allah kepada Ayahku, sehingga Allah memanggil sangat cepat Ayahku. Disaat aku sedang memerlukan sosok ayah untuk tumbuh kembangku, saat itu aku masih duduk di kelas 5 SD dan masih sedikit kenangan yang aku ukir bersama Ayahku, karena Beliau seorang pekerja keras yang tak pernah mengenal kata lelah sehingga sedikit waktu untuk bisa bertemu denganku. Setiap keinginanku selalu dipenuhi meskipun ada jangka waktu untuk bisa memenuhi keinginanku, karena beliau harus mencari uang lebih untuk bisa memenuhi keinginanku. Ayahku tidak bisa melihat aku menderita, setiap anak-anak lain punya sesuatu dan aku tidak punya, beliau cepat tanggap untuk segera membelikannya untukku.
Semua itu hilang begitu cepat, Allah mempunyai rencana lain. Saat aku mengetahui beliau sudah tiada, hati rasanya hancur sehancur-hancurnya, aku hilang kesadaran untuk beberapa saat. Setelah itu aku melihat sosok yang sudah ditutup kain sarung, aku langsung menghampirinya dan ketika itu dibukalah kain sarung itu. Aku tau aku sekarang tidak punya Ayah, Beliau meninggalkan aku dan tidak bisa melihat aku tumbuh dewasa, seperti itulah pikiranku saat itu. Badanku kaku terdiam,menangis,lalu dibimbing untuk mendoakan Beliau.
Wisuda SD,SMP,SMA dan sebentar lagi aku akan mengakhiri masa kuliahku itu tanpa sosok seorang Ayah. Kadang aku merasa iri dengan teman-temanku, mereka membicarakan kehebatan-kehebatan Ayahnya, dan rasanya aku tidak mau mendengarkan cerita-cerita itu. Melihat kedekatan teman-temanku bersama Ayahnya membuat hati ini membaca "Allohumarhamhu Wa'afihi Wa'fu'anhu".
Dari sejak kepergian Ayahku begitu banyak cerita kehidupan yang akan kuceritakan kepada anak cucuku nanti, kejadian yang luar biasa dimana aku harus pintar mencari uang dan menyimpan uang untuk keperluanku sehari-hari, meskipun ada Ibuku serta Kakakku tetap aku menghidupi diriku sendiri, dari belas kasihan saudara-saudaraku dan tetangga.
"Dulu mau beli apapun tinggal bilang, sekarang aku harus memutar otak untuk mendapatkan kebutuhanku, bukan keinginanku"
Ya memang anak perempuan itu dekatnya dengan Ayah, dan anak laki-laki itu dekatnya dengan Ibu. Itu aku rasakan dalam kehidupanku.
Terimakasih Ya Allah ku, Engkau senantiasa mengasihiku dengan berbagai cobaan dan rintangan dalam kehidupanku, aku yakin Engkau mempunyai rencana indah untukku yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Ya Allah ku, bimbinglah selalu aku dalam jalan yang benar, dalam jalan yang Engkau ridhai. Lapangkanlah hatiku untuk selalu bisa menerima semua ujian dan cobaan serta rintangan yang Engkau beri.
Laahaula Walaaquata Illa Billahil'aliyil'adzim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar