Senin, 26 April 2010

Bila Asmara di Titik Jenuh

Cepat atau lambat, akan tiba saatnya hubungan asmara mencapai titik jenuh. Maka siapkan diri menghadapinya. Bila kala mencapai titik ini, maka segala yang terjadi akan nampak monoton dan so boring. Hubungan terasa 'dingin' dan hambar. Bila ini terjadi, apa yang harus dilakukan ?

Nita Tucker dalam How not to screw it up, punya tips khusus untuk mengatasinya. Kembali ke masa lalu dan mengenang saat-saat indah jatuh cinta dulu, bisa menghangatkan kembali asmara Anda.

  • Telusuri kembali kisah cinta Anda dengan membuka album lama, atau membaca surat-surat cinta saat masih pacaran. Ungkapkan saat-saat indah itu dalam kata-kata.

  • Tanyakan pada pasangan, apa yang dulu membuatnya tertarik pada Anda. Hal itu bisa menggugah ingatan dan kembali menggetarkan hati Anda.

  • Jika masih ingat saat pertama kali dia mengungkapkan cinta, tak ada salahnya dirayakan dengan nonton film berdua dan dinner. Dampaknya, akan sangat terasa.

Atau, Anda bisa mengikuti saran Dan Zevin dalam The Nearly-Wed Handbook:

  • Berkumpul dengan teman-teman sebaya yang masih lajang, bisa menambah kehangatan. Dengarkan kisah-kisah mereka, dan Anda akan lebih menghargai kehadiran pasangan.

  • Tinggal terpisah untuk sementara waktu juga akan sangat membantu. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk menyadari keberadaan pasangan. Rasakan indahnya rindu tanpa pasangan disisi Anda.

Semua usaha itu akan membakar kembali api cinta yang nyaris padam. So, jangan biarkan cinta Anda menjadi dingin.

Anda pernah mengalaminya ?

Selasa, 20 April 2010

10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai

Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking

Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah- masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Senin, 19 April 2010

Sabar dalam Upaya Bersatu

Bersabarlah ketika berupaya untuk bersatu, karena untuk bersatu memerlukan mengalah dan sikap bersabar. "Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar, dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS. AlAnfal 8:46). Jadi memang bertengkar, berbantah-bantahan akan melumpuhkan persatuan. Belajarlah untuk mengalah dan beberapa saat supaya persatuan bisa kita dapatkan.

Kebencian Penyebab Kesengsaraan

Bila kebencian telah menguasai hati seseorang, maka ia akan menjadi sumber aneka penyakit hati dan perbuatan buruk lainnya. Hati akan amat mudah berburuk sangka. Selalu menilai buruk terhadap apapun yang dilakukan, betapapun kebaikan yang diperbuat, selalu saja disikapi dengan kecurigaan. Raut muka akan enggan untuk tersenyum, bahkan akan terbentuk senyum sinis, memalingkan muka dengan sengaja, mendustakan kata-katanya. Pikiran berupaya untuk mencari aib dan kekurangan serta merancang untuk mempermalukan dan merusak nama baiknya. Lebih jauh dari itu, akan jatuh pula kepada dosa, ghibah, yaitu menebarkan keburukan dan kekurangan demi memuaskan kebenciannya, dan tidak berat pula untuk menyebar fitnah, untuk menghancurkan orang yang tidak disukainya. Sungguh perbuatan yang teramat keji dan nista. Andaikata rasa dendam sudah tidak terkendali, maka tindakan fisik akan menjadi biang kekejian yang lebih parah. Memukul, menghancurkan, membunuh, dan inilah yang sekarang banyak kita saksikan sehari-hari. Sungguh memilukan, sesama hamba Allah saling menghancurkan satu sama lainnya.
Disadari atau tidak, kebencian yang membara akan menghancurkan tidak hanya dirinya sendiri, namun juga keluarganya, lingkungannya, bahkan lebih luas lagi umat dan bangsa ini. Kita akan kehilangan potensi kesuksesan yang kita miliki hanya karena meladeni kebusukan hati yang penuh benci.
Waktu ? dia akan terkuras habis untuk berpikir buruk, merencanakan perbuatan jahat, pikiran sangat kacau dan tidak sempat lagi untuk memikirkan hal -hal positif yang membawa manfaat bagi dunia dan akhirat. Batin selalu gelisah, marah membara, menjadikan hidup penuh dengan ketegangan, penuh dengan kedongkolan, dan sudah barang tentuini akan terekspresi dari raut muka yang jauh dari keramahan dan kelembutan juga tutur kata yang amat kasar, kotor dan hina. Tenaga pun terkuras habis untuk memuaskan rasa dendamnya, tak ada tenaga yang tersisa untuk kebaikan, lahir batin akan memikul kerugian. Naudzubillahimindzalik ! Hal lain yang tak kalah ruginya adalah hilangnya ketentraman bersama, hidup akan selalu tercekam ketakutan, tegang dan cemas. Semua kenikmatan yang ada tidak bisa dinikmati, pun kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Tidak ada lagi kenyamanan dalam belajar dan meraih ilmu, yang tentu semua ini amat merugikan masa depan siapapun. Juga tidak bisa lagi bekeaja dengan baik dan tenang. Dengan kata lain kebencian menimbulkan kehancuran lahir batin, diri maupun orang lain. Bahkan dunia maupun akhirat.

Minggu, 18 April 2010

Pelajaran dari Tukang Parkir

Pernah melihat tukang parkir ?
Lihatlah, walaupun dilahan parkirnya begitu banyak mobil bagus dan mewah tapi tak terlihat kesombongan sedikit pun. Begitu pula dengan silih bergantinya mobil, baik yang bagus dengan yang lebih bagus ataupun yang lebih jelek, tak juga membuatnya menjadi takabur atau minder. Bahkan ketika diambil satu persatu sampai habis sekali pun, tak tampak rasa duka atau sedih karena merasa kehilangan. Mengapa demikian ? Penyebabnya adalah karena tukang parkir tidak merasa memiliki melainkan hanya merasa tertitipi. Jadi ada dan tiada tidak banyak mempengaruhi sikap mentalnya.
Dengan kata lain, kesombongan seseorang, keminderan, iri, dengki, atau ketakutan akan kehilangan duniawi merupakan indikasi bahwa dia belum sampai kepada keyakinan bahwa semuanya hanyalah titipan Allah semata. Semakin lemah keyakinan seseorang, maka dia akan semakin tersiksa dan diperbudak oleh perasaan salahnya, dan itu akan membuat dia semakin menderita. Jika sudah kokoh dan mantap keyakinan bahwa segala-galanya hanyalah milik Allah semata, dan kita hanya sekedar makhluk yang mampir sebentar di dunia ini maka akan ada suatu kondisi batin yang mantap dimana kita tak goyah oleh ada dan tiada. Tak ada kesombongan, minder, iri dengki dan ketakutan akan kehilangan ataupun kesedihan dengan ketiadaan.